Pages

Kamis, 11 Oktober 2012

Senyawa Positif Dari Sambiloto

Kandungan Kimia asli Dalam Tumbuhan Sambiloto
Tanaman sambiloto mengandung laktone dan flavonoid. Laktone diperoleh dari Daun dan cabangnya, masing – masing mengandung : deoxyandrographolide, andropraholide, neonandrographolide, 14-deoxy-n, 12-didehydroandrographolide, dan homoandrographolide. Sedangkan Flavoloid sendiri paling banyak diperoleh dari akar dengan kandungandari akar yaitu poplymethoxyflavone, andrographin, panicolin, mono-o-methylwithin, dan apigenin-7, 4-dimethyil ether.
Khasiat tanaman
Khasiat: Antiinflamasi; Antipiretik; Analgesik; Diuretik; Stomakik; Antibengkak. Selain khasiat tersebut daun sambiloto memberi khasiat dari daun, seperti :
* Daun sambiloto berguna untuk obat malaria yang memiliki khasiat menurunkan panas.
* Daun sambiloto berguna untuk obat panas yang memiliki khasiat menurunkan panas.
* Daun sambiloto berguna untuk obat kurang gizi yang memiliki khasiat menambah nafsu makan.
* Daun sambiloto berguna untuk obat sakit perut yang memiliki khasiat meluruhkan kentut, menguatkan lambung, memperkuat saluran pencernaan, dan meredakan kejang.
* Daun sambiloto berguna untuk obat kulit yang memiliki khasiat mengurangi radang dan gatal

11 komentar:

  1. sambiloto adalah tanaman yang sangat berkhasiat bagi manusia dan juga termasuk salah satu tumbuhan yang mengandung flovanoid, dari artikel diatas saya bertanya dan ingin meminta sedikit ilmu kepada teman - teman, bagaimana sih proses megestrak flavonoid dari akar sambiloto ini, ??
    * yuk diskusikan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh penulis.

      Hapus
  2. ini adalah salah satu artikel yang saya baca yang berhubungan dengan ekstraksi flavonoid pada akar sambiloto Ekstraksi Flavonoid (Metode Markham
    1988)
    Rimpang temu putih dan daun-batang
    sambiloto dibersihkan dengan air, diiris tipis,
    dikeringudarakan lalu dikering oven pada
    suhu (40-50) oC selama 4 sampai 5 hari.
    diperoleh kadar air ± 10%, masing-masing
    sebesar 4 sampai 5 hari. Setelah kering,
    sampel kering diblender hingga diperoleh
    serbuk dengan butiran–butiran yang cukup
    halus. Serbuk tersebut ditimbang dan
    selanjutnya digunakan sebagai sampel.
    Kedua sampel, yaitu sambiloto dan temu
    putih masing-masing diambil sebanyak 50 g
    kemudian direndam (metode maserasi) dalam
    200 mL pelarut metanol-air nisbah 9:1
    sebanyak dua kali. Setelah itu, sampel
    disaring dan diambil filtratnya. Residunya
    dimaserasi kembali dengan 200 mL pelarut
    metanol-air nisbah 1:1 sebanyak satu kali.
    Kemudian dipisahkan antara filtrat dan
    residunya. Setiap meserasi dilakukan selama
    2x24 jam disertai pengadukan teratur. Seluruh
    filtrat yang diperoleh dikumpulkan menjadi
    satu. Filtrat kemudian dipekatkan dengan labu
    penguap putar sampai diperoleh volume
    menjadi sepertiga volume semula.
    Ekstrak hasil pemekatan kemudian
    dipartisi dengan heksana (teknis) sebanyak
    dua kali. Lapisan MeOH-H2O dipisahkan dari
    lapisan heksana, kemudian dipartisi dengan
    kloroform (p.a) sebanyak satu kali. Lapisan
    MeOH-H2O kemudian dipisahkan dari lapisan
    kloroform. Proses partisi menggunakan
    corong pisah. Fraksi air-MeOH digabungkan
    dan diuapkan pelarutnya dengan labu penguap
    putar hingga seluruh pelarut organik hilang.
    Ekstrak hasil pemekatan labu penguap putar
    kemudian di kering beku selama 24 jam untuk
    menghilangkan sisa-sisa pelarut air.
    (Lampiran 5). Sedangkan Lampiran 6
    menggambarkan beberapa penguji terhadap
    ekstrak kasar flavonoid yang telah didapat.
    Rendemen (Lampiran 7) ekstrak kasar
    flavonoid dihitung berdasarkan perhitungan
    berikut:
    ( ) 100%
    1- kadar air (bobot sampel) g
    (Bobot ekstrak kasar flavonoid) g

    ini link lengkap untuk sekedar penambahan pengetahuan
    http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46218/G06tra.pdf?sequence=1

    BalasHapus
  3. Telah diisolasi dan diidentifikasi androgafolia dari herba sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees, Acanthaceae). Dengan ekstraksi sinambung menggunakan alat Soxhlet diikuti dengan pemekatan akstrak, filtrasi dan pencucian dengan aseton, diperoleh isolat kasar dengan kemurnian 92,6% dan rendemen 2,5%, yang selanjutnya dimurnikan secara kromatografi kolom menggunakan fase diam silika gel 60(0,063 – 0,2 mm) dan fase gerak n-heksana-etil asetat (1:5) sehingga diperoleh isolat yang mempunyai titik leleh, Rf, spektra ultraviolet dan inframerah karakteristik andrografolia. Ekstrak dibuat dengan cara ekstraksi sinambung menggunakan alat Soxhlet dengan pelarut aseton selama 20 jam. Hablur kasar yang diperoleh dari ekstraksi dipisahkan dan dicuci melalui penyaringan dengan corong Buchner, kemudian dilakukan pemeriksaan KLTdan titik leleh, fraksinasi hablur kasar dengan kromatografi kolom dan KCKT, lalu kemurnian isolat diuji secara KLT satu arah dan KLT dua dimensi. Isolat diidentifikasikan dengan menggunakan pembanding secara KLT, spektrofotometri ultraviolet, spektrofotometri inframerah. Dari serbuk herba diperoleh isolat andrografolia. Rendemen isolat kasar 2,5% dengan kemurnian isolat kasar diperkirakan 92,6%.

    BalasHapus
  4. menurut artikel yang sya baca,
    Serbuk sambiloto yang terdiri atas batang
    dan daun tanaman sambiloto diperoleh dari penelitian.
    Ekstraksi dilakukan dengan
    metode maserasi memakai pelarut metanol,
    yaitu sebanyak 1000 g serbuk sambiloto
    direndam dalam 3 liter pelarut metanol selama
    24 jam lalu disaring. Ampas direndam lagi
    dengan pelarut metanol. Perendaman dilakukan
    4 kali sampai warna pelarut menjadi bening.
    Proses ekstraksi dilakukan agar metabolit
    sekunder terekstraksi. Filtrat yang diperoleh
    diuapkan dengan rotary evaporator, dan
    diperoleh ekstrak pekat yang selanjutnya disebut
    ekstrak metanol herbal sambiloto. Selanjutnya
    dilakukan uji fitokimia yang meliputi flavonoid,
    alkaloid, tanin, terpenoid/steroid, saponin, dan
    kuinon..

    BalasHapus
  5. dari artikel yang saya baca
    Tanaman sambiloto dan rimpang temu putih diekstraksi dengan metode maserasi. Jenis
    pelarut dan nisbah perbandingan mengikuti metode maserasi Markham (1988). Ekstraksi
    menggunakan pelarut metanol-air dengan nisbah 9:1 dan 1:1. Setelah itu, dipartisi dengan
    pelarut heksana dan kloroform. Rendemen ekstrak kasar flavonoid sambiloto dan rimpang
    temu putih masing-masing sebesar 16,90% dan 19,81%. Selanjutnya, uji toksisitas larva
    udang dan penentuan total fenol dilakukan. Daya inhibisi ekstrak kasar sambiloto
    konsentrasi 300 ppm terhadap tirosin kinase adalah sebesar 67,19% atau lebih besar dari
    kontrol positif (genistein), yaitu sebesar 6,71%. Daya inhibisi ekstrak kasar flavonoid
    rimpang temu putih terhadap tirosin kinase konsentrasi 300 ppm dan 700 ppm masingmasing
    sebesar 2,83% dan 27,49% atau lebih tinggi dibandingkan genistein. Daya hambat
    ekstrak kasar sambiloto terhadap tirosin kinase cukup tinggi sehingga dapat berpotensi
    sebagai obat antikanker, sedangkan daya hambat ekstrak kasar flavonoid temu putih lebih
    rendah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebanyak 50 gram sampel Tumbuhan sambiloto (Andrographis paniculata Nees) yang telah berupa serbuk diekstraksi secara maserasi menggunakan 200 ml metanol di dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi karena ditinjau dari segi teksturnya yang lunak, selain itu juga untuk mencegah terjadinya kerusakan komponen kimia yang tidak tahan terhadap pemanasan. Penyari yang digunakan untuk mengekstraksi adalah metanol, karena metanol merupakan pelarut yang bersifat semi polar, dengan demikian methanol dapat menyari komponen-komponen kimia yang sifatnya polar maupun yang sifatnya non polar. Campuran tersebut lalu digojog kuat setiap 10 menit selama 1 jam setelah itu disaring menggunakan kertas saring. Filtrat yang didapatkan ditampung, dan ditambah 150 ml metanol kembali. Replikasi ini dilakukan sebanyak 2 kali.
      Filtrat yang diperoleh diuapkan diatas cawan porselen di atas penangas air, hingga didapatkan volume filtrat 10 ml. Kemudian ambil sedikit cuplikan untuk dilakukan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan disimpan. Sisa dari cuplikan tersebut lalu ditambahkan 2 gram serbuk silika gel (adsorben) lalu diuapkan hingga kering.

      Hapus
    2. dari artikel yang saya baca,
      ekstraksi flavonoid dari akar sambiloto yaitu Sejumlah sampel sambiloto digerus dalam mortir dengan sedikit air, pindahkan dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit logam magnesium dan 5 tetes HCl 2 N, seluruh campuran dipanaskan selama 5–10 menit. Setelah disaring panas–panas dan filtrat dibiarkan dingin, kepada filtrat ditambahkan amil alkohol, lalu dikocok kuat–kuat, reaksi positif dengan terbentuknya warna merah pada lapisan amil alkohol.

      Hapus
  6. Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) merupakan salah satu tanaman obat yang mudah di dapat di
    Indonesia. Tanaman ini mempunyai kandungan kimia seperti andrografolid, flavonoid, minyak atsiri serta
    mineral-mineral lainnya yang diketahui bersifat antiradang, antidiuretika, antianalgetika, dan antibakteri
    (bakteriostatik). Seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat, salah satunya adalah obat batu
    ginjal. Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri pemecah urea yang memicu terbentuknya batu
    ginjal. Teknik pengambilan senyawa aktif yang terkandung dalam daun sambiloto adalah dengan ekstraksi
    padat-cair (leaching) menggunakan metode sonikasi selama 20 menit. Penelitian merupakan kajian awal
    yang bertujuan untuk mengkaji pengaruh konsentrasi dan tingkat kepolaran pelarut pada ekstraksi daun
    sambiloto dengan metode sonikasi terhadap kemampuan ekstrak dalam menghambat pertumbuhan bakteri
    Staphylococcus aureus, mengkaji hubungan antara kenaikan indeks bias ekstrak dengan akti vitas
    bakteriostatiknya, dan mengkaji ketahanan ekstrak daun sambiloto terhadap oksidasi. Metode penelitian
    yang digunakan adalah persiapan bahan baku (pengeringan daun) dan percobaan utama (ekstraksi dan
    analisis). Variasi yang digunakan adalah tingkat kepolaran pelarut (air, etanol dan kloroform) dan
    konsentrasi (2/20, 2/40, 2/60, 2/80, 2/100 gr/mL). Hasil ekstraksi dianalisis secara kualitatif dengan uji
    aktivitas antibakteri metode kertas cakram, pengukuran indeks bias, dan uji ketahanan oksidasi dengan
    metode weight gain. Hasil penelitian uji antibakteri didapatkan bahwa ekstrak etanol daun sambiloto
    memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, tetapi tidak dapat
    membunuhnya. Konsentrasi dan tingkat kepolaran pelarut mempengaruhi kemampuan ekstrak daun
    sambiloto dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan DDH = 7,4 mm pada ekstrak etanol 2gr/40mL.
    Proses ekstraksi terbukti dapat menaikkan nilai indeks bias dari pelarutnya, tetapi tidak ditemukan
    kecenderungan tertentu antara kenaikan indeks bias dengan aktivitas bakteriostatik ekstrak. Ekstrak etanol
    daun sambiloto dengan konsentrasi 2gr/40mL dinilai masih cukup baik dalam ketahanannya terhadap
    oksidasi terhitung selama tujuh hari.

    BalasHapus
  7. Sejumlah sampel digerus dalam mortir dengan sedikit air, pindahkan dalam tabung reaksi, tambahkan sedikit logam magnesium dan 5 tetes HCl 2 N, seluruh campuran dipanaskan selama 5–10 menit. Setelah disaring panas–panas dan filtrat dibiarkan dingin, kepada filtrat ditambahkan amil alkohol, lalu dikocok kuat–kuat, reaksi positif dengan terbentuknya warna merah pada lapisan amil alkohol (MMI V, 1989).
    Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara: Tanaman sambiloto dan rimpang temu putih diekstraksi dengan metode maserasi. Jenis
    pelarut dan nisbah perbandingan mengikuti metode maserasi Markham (1988). Ekstraksimenggunakan pelarut metanol-air dengan nisbah 9:1 dan 1:1. Setelah itu, dipartisi denganpelarut heksana dan kloroform. Rendemen ekstrak kasar flavonoid sambiloto dan rimpang temu putih masing-masing sebesar 16,90% dan 19,81%. Selanjutnya, uji toksisitas larva udang dan penentuan total fenol dilakukan. Daya inhibisi ekstrak kasar sambiloto konsentrasi 300 ppm terhadap tirosin kinase adalah sebesar 67,19% atau lebih besar dari kontrol positif (genistein), yaitu sebesar 6,71%. Daya inhibisi ekstrak kasar flavonoid
    rimpang temu putih terhadap tirosin kinase konsentrasi 300 ppm dan 700 ppm masingmasing
    sebesar 2,83% dan 27,49% atau lebih tinggi dibandingkan genistein. Daya hambat ekstrak kasar sambiloto terhadap tirosin kinase cukup tinggi sehingga dapat berpotensi sebagai obat antikanker, sedangkan daya hambat ekstrak kasar flavonoid temu putih lebih rendah

    BalasHapus
  8. Ekstraksi dengan Metode dekoktasi
    Prosedur :
    1. Simplisia yang terdiri atas sambiloto disortasi dahulu untuk dipisahkan dari pengotornya. Kemudian simplisia diserbukkan lalu di timbang 500g simplisia yang akan diekstraksi. Setelah ditimbang masing-masing simplisia dilakukan dekoktasi menggunakan pelarut air pada temperatur 90oC selama 30 menit.
    2. Ekstrak cair yang diperoleh kemudian di kentalkan dengan pemanasan hingga diperoleh ekstrak kental.
    3. Berat ekstrak kental ditetapkan, kemudian dikonversikan terhadap volume ekstrak total yang diperoleh. Rendemen ekstrak ditetapkan dengan perumusan :
    Rendemen (%) = Berat Ekstrak Total / Berat Simplisia x 100 %.
    4. Dengan menggunakan ekstrak cair dilakukan dinamolisis dengan cara sebagai berikut :
    Kertas saring Whatman diameter 10 cm titik pusatnya dilubangi kemudian dipasang sumbu yang terbuat dari kertas saring. Kertas saring bersumbu kemudian ditutupkan pada cawan petri yang berisi maserat. Lalu dibiarkan terjadi proses difusi sirkulasi selama beberapa saat (sekurang-kurangnya 10 menit). Lalu gambaran dinamolisis diamati.
    1. Dengan menggunakan ekstrak kental, dilakukan analisis bobot jenis sebagai berikut :
    Ditimbang piknometer volume tertentu dalam keadaan kosong, kemudian piknometer diisi penuh dengan air, dan dilakukan penimbangan ulang. Kerapatan air dapat ditetapkan, kemudian pikno dikosongkan dan diisi penuh dengan ekstrak, lalu ditimbang. Melalui berat ekstrak yang mempunyai volume tertentu dapat ditetapkan kerapatan ekstrak. Bobot jenis ekstrak ditetapkan dengan rumusan :
    Bobot jenis ekstrak = Kerapatan Ekstrak / Kerapatan Air.

    BalasHapus